
Tragedi yang memilukan kembali terjadi di Deli Serdang, ketika seorang mahasiswi keperawatan bernama Nur Alfisyahri Br Tambun, yang baru berusia 22 tahun, ditemukan tewas akibat gantung diri di dalam kamar Penginapan Cibulan. Kejadian yang menghebohkan ini terjadi pada Selasa, 24 Maret 2026, sekitar pukul 12:00 WIB, dan menyisakan duka mendalam bagi keluarga serta rekan-rekan seprofesinya.
Detail Penemuan Jenazah
Informasi yang diperoleh dari pihak penginapan mengungkapkan bahwa pada malam sebelumnya, sekitar pukul 22:30 WIB, Nur Alfisyahri datang ke penginapan seorang diri. Menurut saksi yang bertugas di resepsionis, Samuel Ginting, korban mengunjungi penginapan tersebut dengan membawa ransel berwarna biru dan langsung melakukan check-in untuk sebuah kamar ber-AC.
Setelah menyelesaikan proses check-in, Nur Alfisyahri diarahkan menuju kamar nomor 16, tempat ia menginap. Kejadian ini tampak biasa, tanpa tanda-tanda yang mencurigakan saat itu. Namun, tragedi baru terlihat pada hari berikutnya.
Ketidakberdayaan dan Penyelidikan
Pada Selasa, 24 Maret 2026, setelah waktu check-out berakhir, Samuel Ginting dan rekannya Santo Yusuf Martin mengetuk pintu kamar nomor 16, namun tidak mendapatkan jawaban. Ketidakpastian ini menyebabkan mereka merasa curiga dan memutuskan untuk memeriksa lebih lanjut.
Setelah tidak mendapat jawaban, kedua saksi tersebut melihat ke arah ventilasi pintu dan mendapati ada sebuah ikatan tali berwarna hijau. Hal ini menimbulkan kecurigaan yang lebih besar, sehingga mereka segera melaporkan situasi tersebut kepada pengawas penginapan, Roswandi Tarigan.
Tindakan Kepolisian
Menindaklanjuti laporan dari pihak penginapan, sekitar pukul 13:00 WIB, personel Polsek Tanjungmorawa yang dipimpin oleh Kanit Reskrim tiba di lokasi kejadian. Mereka segera mendobrak pintu kamar untuk memastikan keadaan di dalamnya. Situasi semakin mencekam ketika petugas menemukan Nur Alfisyahri dalam keadaan tergantung di ventilasi kamar menggunakan seutas tali nilon hijau.
Setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), pihak kepolisian langsung melakukan langkah-langkah yang diperlukan. Jenazah korban kemudian dibawa ke Puskesmas Tanjungmorawa dengan menggunakan ambulans untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Proses Pemulangan Jenazah
Setelah pemeriksaan di Puskesmas, pada pukul 15:30 WIB, jenazah Nur Alfisyahri diserahkan kepada keluarganya untuk dimakamkan. Keluarga yang berduka menerima berita ini dengan penuh kesedihan. Mereka telah membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa mereka tidak ingin dilakukan autopsi pada jenazah korban.
Informasi Keluarga dan Latar Belakang Korban
Ayah korban, Muklis Tambun, menjelaskan bahwa pada malam sebelum kejadian, sekitar pukul 19:00 WIB, Nur Alfisyahri berpamitan untuk keluar rumah. Namun, hingga tengah malam, ia masih belum kembali. Ibu korban berusaha menghubunginya melalui telepon dan mendapatkan informasi bahwa anaknya sedang berada di Asrama Institut Kesehatan Medistra Lubukpakam untuk menyelesaikan tugas skripsi.
Keberadaan Nur Alfisyahri yang seharusnya sibuk dengan tugas kuliah, tiba-tiba berakhir tragis. Kasus ini mengingatkan kita akan pentingnya memperhatikan kesehatan mental, terutama di kalangan mahasiswa yang sering kali menghadapi tekanan berat dalam menyelesaikan studi mereka.
Pentingnya Kesadaran Kesehatan Mental
Tragedi yang menimpa Nur Alfisyahri tidak hanya menjadi berita duka, tetapi juga memberikan pelajaran berharga mengenai isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Banyak di antara mereka yang tidak mendapatkan dukungan yang memadai ketika menghadapi krisis emosional.
Berikut adalah beberapa langkah penting yang dapat diambil untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental di kalangan mahasiswa:
- Penawaran Program Konseling: Institusi pendidikan seharusnya menyediakan layanan konseling yang mudah diakses untuk membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan emosional.
- Pendidikan Kesehatan Mental: Mengadakan seminar dan workshop tentang kesehatan mental untuk meningkatkan pemahaman di antara mahasiswa.
- Fasilitas Dukungan Teman: Mendorong pembentukan kelompok dukungan di antara mahasiswa untuk saling membantu dan mendengarkan satu sama lain.
- Kampanye Kesadaran: Melakukan kampanye di kampus untuk mengurangi stigma seputar masalah kesehatan mental.
- Pentingnya Keterbukaan: Menciptakan lingkungan di mana mahasiswa merasa aman untuk berbicara tentang perasaan dan masalah yang mereka hadapi.
Menghadapi Krisis Emosional
Dalam menghadapi situasi sulit, penting untuk mengetahui tanda-tanda yang menunjukkan seseorang mungkin sedang dalam krisis emosional. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:
- Perubahan perilaku yang signifikan, seperti menarik diri dari teman-teman dan kegiatan yang biasa dilakukan.
- Kesulitan berkonsentrasi pada tugas sekolah atau pekerjaan.
- Sering merasa cemas atau depresi tanpa alasan yang jelas.
- Kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai.
- Perubahan dalam pola tidur atau pola makan.
Ketika tanda-tanda ini muncul, penting untuk segera mencari bantuan. Mahasiswa seharusnya tidak merasa sendirian dalam perjuangan mereka. Dukungan dari teman, keluarga, dan profesional sangatlah penting untuk membantu mereka melewati masa-masa sulit.
Kesimpulan
Kasus tragis ini harus menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya peduli terhadap kesehatan mental. Kita perlu menciptakan lingkungan yang mendukung di mana mahasiswa merasa aman untuk berbagi masalah mereka dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Dengan demikian, kita dapat mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan dan memberikan dukungan yang lebih baik bagi mereka yang sedang berjuang.
➡️ Baca Juga: Arus Balik H+3 di Jeneponto Meningkat, Jembatan Belokallong Terputus Menghubungkan Lima Kabupaten
➡️ Baca Juga: Indonesia Raih Emas di Cabang Bulu Tangkis




